Menuju KERIDHOAN ALLAH

Jaka Simbara

BERMULA DARI KEINGINAN UNTUK BERBAGI DENGAN SESAMA , NASEHAT MENASEHATI DALAM KEBENARAN
MAKA BLOG INI ADA .


"DAN HENDAKLAH ADA DI ANTARA KAMU SEGOLONGAN UMAT YANG MENYERU KEPADA KEBAJIKAN, MENYURUH KEPADA YANG MAKRUF, DAN MENCEGAH DARI YANG MUNGKAR. MEREKALAH ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG" (QS ALI IMRAN:104)


DAN SESUNGGUHNYA KAMI JADIKAN UNTUK ISI NERAKA JAHANNAM KEBANYAKAN DARI JIN DAN MANUSIA, MEREKA MEMPUNYAI HATI, TETAPI TIDAK DIPERGUNAKANNYA UNTUK MEMAHAMI AYAT - AYAT ALLAH, DAN MEREKA MEMPUNYAI MATA, TETAPI TIDAK DIPERGUNAKANNYA UNTUK MELIHAT TANDA - TANDA KEKUASAAN ALLAH, DAN MEREKA MEMPUNYAI TELINGA, TETAPI TIDAK DIPERGUNAKANNYA UNTUK MENDENGAR AYAT - AYAT ALLAH. MEREKA ITU SEBAGAI BINATANG TERNAK, BAHKAN MEREKA LEBIH SESAT LAGI. MEREKA ITULAH ORANG - ORANG YANG LALAI. (QS AL A'RAAF : 179)


JADIKANLAH HIDUP INI SEBAGAI LADANG AMAL UNTUK BEKAL DI AKHERAT KELAK YANG ABADI. HIDUP HANYA SEKALI, JANGANLAH KITA SIA-SIAKAN. INILAH SAAT YANG MENENTUKAN TEMPAT KITA KELAK, DI SURGA......, ATAUKAH NERAKA......







LARANGAN BAGI ORANG ISLAM UNTUK MEMILIH WALI / PEMIMPIN DARI KALANGAN NON MUSLIM, DENGAN MENINGGALKAN ORANG ISLAM

Assalaamu Alaikum Warakhmatullaahi  Wabarakaatuh.
Dari jaman Rasulullah, hidup berdampingan/berbaur dengan kaum non muslim sudah biasa terjadi. Pada jaman moderen sekarang ini pun hidup berdampingan dengan non muslim, merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari . Dan itu bukanlah suatu masalah, karena islam mengakui kebebasan setiap manusia untuk memilih agamanya dan mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, namun dengan konsekuensi bahwa kelak di akherat setiap manusia akan mempertanggung  jawabkan pilihannya tersebut di hadapan ALLAH pencipta alam semesta ini.
Nah... dalam keseharian tentunya seorang mukmin harus punya standar , bagaimana  bersikap terhadap non muslim.  
Di dalam Alqur’an  dengan tegas, ALLAH SWT  melarang  kaum mukmin untuk menjadikan orang kafir sebagai wali, pemimpin ataupun orang kepercayaan, yang dikarenakan dikhawatirkan mereka akan berkhianat dan membuat kerusakan dengan berbuat dosa di muka bumi. Larangan tersebut tercantum dalam surah ALI IMRAN  :

Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).              (QS  ALI IMRAN : 28)


Jadi dalam hal ini apabila masih ada  orang islam sebagai pilihan, maka orang islam itulah yang lebih baik dipilih sebagai wali / pemimpin ataupun orang kepercayaan.  Tentu kita akan bertanya mengapa demikian ? ,  jawabnya adalah :  bahwa dalam pandangan ALLAH seorang mukmin lebih bisa dipercaya dalam  mengemban amanah , karena orang MUKMIN lah yang oleh ALLAH diharapkan menjadi umat pilihan, yaitu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf (baik) dan mencegah dari yang munkar (kejahatan), sebagaimana termaktub dalam surah ALI IMRAN ayat 104 sebagai berikut :

 Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS  ALI IMRAN : 104)
Dan ayat – ayat lain dalam AL QUR’AN  yang mempunyai kandungan  yang sama dengan QS  ALI IMRAN : 28  di atas  antara lain adalah sebagai berikut :


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.  (QS  AL MAA-IDAH : 51)


Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.   (QS   AL  ANFAAL : 73)

 
Penerapan perintah ALLAH pada ayat-ayat  di atas dalam kehidupan se hari-hari adalah :
-          Apabila kita adalah orang yang memegang kewenangan untuk menentukan/memilih seseorang untuk menduduki jabatan tertentu, yang berpengaruh bagi kemaslahatan umum, maka pilihlah orang islam yang taat sebagai pilihan kita, agar amanah bisa terjaga.

-          Dalam memilih seorang pemimpin, entah itu kepala desa, camat, Bupati, Gubernur ataupun presiden, maka bila memungkinkan pilihlah dari kalangan mukmin yang taat, agar amanah bisa terjaga.
Dan jika hal ini tidak kita laksanakan sesuai perintah ALLAH, maka sebagaimana dinyatakan dalam QS  AL  ANFAAL  ayat 73, maka akan terjadi kekacauan di muka bumi yang dikarenakan dikhianatinya sebuah amanah, dan tentu saja kita ikut bertanggung jawab terhadap dosa dan kekacauan yang ditimbulkan, karena pada dasarnya, apabila ada kemungkaran sedang berlangsung, maka wajib bagi setiap muslim untuk mencegahnya sesuai dengan kemampuan. Bila mampu dengan tindakan, maka cegahlah dengan tindakan, bila tidak mampu, maka dengan ucapan atau nasehat, bila inipun tidak mampu, maka tolaklah dengan hati, dan itulah selemah-lemah iman.   
Akhirnya...., marilah kita bersama-sama senantiasa berusaha untuk melaksanakan segala perintah ALLAH. Kita harus yakin bahwa ALLAH lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi manusia. Akal manusia yang sempitlah yang kadang-kadang membuat suatu perintah ALLAH terasa tidak cocok buat manusia, karena cara pandang kita yang individual. Sedangkan ALLAH memandang segala sesuatu dengan cakupan yang lebih luas dan detail. 
Nah...... semoga ALLAH senantiasa melimpahkan rakhmatNYA bagi semua mukmin, dan memberikan kekuatan untuk lebih meningkatkan iman, aaamiiiin .
Wassalaamu Alaikum Warakhmatullaahi Wabarakaatuh.    

14 komentar:

  1. Seorang ulama Al-Azhar Kairo, Syaikh Ahmad Musthofa Al Maraghi dalam Kitab Tafsirnya, menafsirkan Surat Ali Imran : 118, bahwa orang-orang Islam dilarang mengambil orang-orang Non-Muslim, seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang Munafik sebagai pemimpin atau teman setia, bila mereka memiliki sifat-sifat seperti yang ditentukan dalam ayat tersebut, yaitu:
    Mereka tidak segan-segan merusakkan dan mencelakakan urusan orang-orang Islam
    Mereka menginginkan urusan agama dan urusan dunia orang-orang Islam dalam kesulitan yang besar
    Mereka menampakkan kebencian kepada orang-orang Islam melalui mulut mereka yang terang-terangan
    Sifat-sifat tersebut adalah persyaratan yang menyebabkan dilarangnya mengambil pemimpin dan teman setia yang bukan dari orang-orang Islam.
    Bila ternyata sikap mereka berubah, seperti orang-orang Yahudi yang pada permulaan Islam terkenal sebagai golongan yang paling memusuhi orang-orang Islam, kemudian mereka mengubah sikap dengan mendukung Islam dalam penaklukan Andalusia. Juga seperti orang-orang Kristen Koptik yang membantu orang-orang Islam dalam menaklukkan Mesir dengan mengusir orang-orang Romawi yang menduduki lembah Sungai Nil itu. Dalam keadaan seperti itu tidak dilarang mengambil mereka sebagai pemimpin atau teman setia.

    Pendapat Syaikh Yusuf Qaradhawi tak jauh beda dengan Syaikh Al Maraghi. Dalam buku Min Fiqh al-Dawlah fi al-Islam, doktor alumni Universitas Al-Azhar itu mengatakan, orang-orang Islam dilarang mengangkat orang-orang Non-Muslim sebagai teman, orang kepercayaan, penolong, pelindung, pengurus dan pemimpin, bukan semata-mata karena beda agama. Akan tetapi, karena mereka membenci agama Islam dan memerangi orang-orang Islam, atau dalam bahasa Al-Quran disebut memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Syaikh Qaradhawi mendasarkan pendapatnya pada Surat Al-Mumtahanah : 1, yang terjemahnya sebagai berikut:
    “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. Padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu…”
    Syaikh Qaradhawi yang juga Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, membagi orang Kafir atau Non-Muslim menjadi dua golongan. Pertama, yaitu golongan yang berdamai dengan orang-orang Islam, tidak memerangi dan mengusir mereka dari negeri mereka. Terhadap golongan ini, umat Islam harus berbuat baik dan berbuat adil. Di antaranya memberikan hak-hak politik sebagai warga Negara, yang sama dengan warga Negara lainnya, sehingga mereka tidak merasa terasingkan sebagai sesama anak Ibu Pertiwi.
    Sedangkan golongan kedua, adalah golongan yang memusuhi dan memerangi umat Islam, seperti orang-orang Non-Muslim Mekah pada masa permulaan Islam yang sering menindas, menyiksa dan mencelakakan umat Islam. Terhadap golongan ini, umat Islam diharamkan mengangkat mereka sebagai pemimpin atau teman setia.
    Pendapat Syaikh Qaradhawi ini didasarkan pada Surat Al-Mumtahanah : 8, yang terjemahnya sebagai berikut:
    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalaamu Alaikum Wr Wb , terima kasih sebelumnya atas komen dan masukan dari saudara Herizal Alwi. Dan saya sependapat dengan anda . Sebenarnya yang hendak saya sampaikan adalah dikhususkan pada memilih seorang "Pemimpin" . Seorang pemimpin adalah posisi yg amat menentukan thdp kesejahteraan kaum yg dipimpinnya. Dan sikap manusia itu adalah dinamis , dia bisa berubah menyesuaikan kondisi. Mengingat hal ini maka kita harus berhati-hati. sehingga seorang mukmin dipandang lebih bisa menjamin amanah dan terakomodirnya kepentingan muslim.

      Tentang yg saudara Herizal kemukakan ... , ada sedikit perbedaan situasi , bahwa dalam pembebasan Andalusia , posisi kaum Yahudi bukanlah sebagai "pemimpin" orang Islam , melainkan hanya partner atau pendukung , demikian juga kristen koptik dalam mengusir orang2 Romawi dari Mesir , posisi mereka juga hanya sebagai pendukung. Dan sebenarnya sikap Yahudi yg mendukung pembebasan Andalusia , itu juga karena mereka punya kepentingan tertentu .

      Dan saya setuju , dalam hal seperti itu kaum muslim bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama , sepanjang itu tdk merugikan . Dan terhadap non muslim yg bersikap baik / tdk memusuhi Islam , tentunya kaum muslim harus bersikap adil dan memberikan hak2 politik sebagai warga negara.
      Di dalam Al Qur'an surat AL MAA-IDAH juga dinyatakan sebagai berikut :

      Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS AL MAA-IDAH : 8)

      Demikian saudaraku Herizal Alwi , sekali lagi terimakasih atas masukannya , Wassalaamu Alaikum Wr Wb .

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Bagaimana kita yg tinggal dan berusaha di suatu negri yg mayoritas penduduk nya non muslim demikian juga pemimpin nya
    Bukan kah dengan denikian kita mengambil pemimpin non muslim
    sesuai dengan
    "Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)". (QS ALI IMRAN 28 )
    Boleh kah saya menafsir kan nya dengan " Jangan lah orang orang mumin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min
    ada nya kata dengan meninggal orang orang mu'min menjadi pembolehan yg terpenting kita tetap dalam aqidah kita dan dengan tidak meninggal kan orang orang mumin
    karena secara tidak langsung dengan kita tinggal di negri tersebut berarti kita memilih di pimpin oleh non muslim belum lagi bagaimana status dari pajak yg kita bayar kan yg tentu nya di kelola oleh mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalaamu Alaikum Wr Wb . Saudaraku Anonim ..... , saya sependapat dengan anda . Ketika kita adalah salah satu warga di suatu negeri yang mayoritas Non muslim , dan sistem pemerintahannya adalah non muslim .... , selama anda bisa mendapat kebebasan menjalankan syari'at Islam ...., saya rasa tidak masalah anda tinggal di negeri tsb . Dan dalam hal pemilu (memilih pemimpin) , maka pergunakanlah hak suara anda untuk memilih yg Islam bila itu bisa dilakukan . Namun apabila calon yg diajukan adalah dari kalangan non Muslim.... maka pilihlah orang yang kira2 tidak akan memusuhi Islam .

      Namun ada catatan lagi ....ketika kita di suatu negeri yg pemerintahannya tidak memberikan kebebasan kepada kita , sehingga tidak memungkinkan bagi kita untuk menjalankan syari'at agama Islam .....maka jika anda mampu untuk hijrah (pindah ke negeri lain yg lebih menjamin kehidupan keberagamaan anda) , wajib hukumnya anda pindah .

      Hal ini sesuai firman Allah dalam QS AN NISAA' ayat 97 - 100 sebagai berikut :

      97. Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

      98. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

      99. mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

      100. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..

      Demikian saudaraku Anonim . semoga jawaban saya ini bermanfaat .

      Hapus
  4. Saudaraku seiman, assalamu'alaikum wr.wb.
    Mohon maaf atas kekurangan ilmu saya, mohon izin bertanya.
    Bagaimana saya harus memilih jika pilihan pertama dari calon yang ada seorang kristiani yang baik dalam hubungan sosial dg masyarakat setempat, calon kedua adalah seorang muslim yg sering meninggalkan sholat dan sering berbuat maksiat, terima kasih
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. seburuk2nya muslim, mereka masih melafalkan syahadat yang menjadi pondasi agama.

      Hapus
  5. Wa Alaikum Salaam wr wb.
    Saudaraku hamba Allah...... pertanyaan saudara adalah sesuatu yg langka terjadi.
    Menurut saudara, adakah seorang kristiani yg tidak suka maksiat....? . soalnya maksiat menurut islam adalah misalnya suka minum..... , melacur......dsb.

    Orang kristen...biasanya suka minum....dan sepanjang pengetahuan saya hampir semua suka melakukan hal yg dilarang oleh islam , dan itu wajar....karena agama mereka tdk dengan tegas melarang hal tsb. Jadi menurut saya seorang mukmin yg suka bolong2 sholatnya..... dan msh suka maksiat...., msh lebih baik daripada seorang kafir . Mudah2an dg imannya seorang muslim msh ada harapan utk insyaf.

    Sebenarnya jika kita baca surat Ali Imran : 28 , yg dikhawatirkan dari kristen adalah mereka menyembunyikan kebencian terhadap Islam....., shg ketika dia berkuasa......maka akan berbuat sesuatu yg membawa mudhorot bagi Islam (merugikan Islam).

    Saya rasa hal terbaik adalah percaya pd Firman Allah. Jika Allah melarang memilih seorang non muslim menjadi pemimpin kita....maka itulah yg terbaik. Sejelek apapun seorang muslim.....dalam pandangan Allah msh lbh baik daripada seorang kafir , jadi kenapa kita musti meragukan ketetapan Allah.....?? sedangkan Allah pasti lebih mengetahui segala sesuatu......sedangkan manusia tdk mengetahui .

    Mudah2an ini bisa menjawab pertanyaan saudaraku, wallahu a'lam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum wr.wb.. Menurut pandangan saya, ada beberapa kristiani yang tidak biasa dengan minum-minuman. Bahkan makan sesuatu yang dilarang oleh agama islam pun ada yang tidak suka, karena beberapa dari mereka tau resiko makan dan minum yang diharamkan oleh islam dalam segi kesehatan.. Mereka taat dalam agamanya dan saling menghargai akan sesamanya.. Nah di sisi lain ada calon pemimpin muslim seperti yang diinformasikan di atas, bahkan uang rakyat yang dia pimpin diambil untuk kepentingan pribadi..
      Bagaimana kita menyikapi hal ini? Apakah tetap memilih calon pemimpin muslim tersebut? Ataukah tidak memilihnya sama sekali? Terimakasih :)

      Wassalamualaikum wr.wb

      Hapus
  6. Wa Alaikum salam wr wb saudaraku anonim.
    Apa yg anda sampaikan.....bahwa ada orang2 dari kalangan non muslim yg tdk suka minum, itu memang benar, namun hal tsb tidaklah menjamin bahwa non muslim tsb tdk akan melakukan korupsi dan mendukung syiar islam.

    Mari kita berpikir secara logis.
    Ketika kita dihadapkan pada beberapa pilihan, kondisi realnya adalah bhw kita tidak pernah tahu persis bhw orang yg kita pilih tsb akan berprilaku jujur dan amanah. Kemungkinan bhw yg kita pilih akan menyeleweng selalu ada.

    Nah.....Allah memberikan pd kita kriteria2 bagaimana memilih seorang pemimpin yg diharapkan dapat berprilaku adil, amanah dan mendukung syiar Islam.
    Dg jelas Allah melarang kaum muslim utk memilih pemimpin dari kalangan non muslim, dg alasan bhw pemimpin non muslim kemungkinan besar akan selalu membuat kebijakan yg merugikan islam dan tdk mendukung syiar islam.

    Sebagai muslim yg baik dan taat....maka tak perlu lagi sebenarnya larangan tsb kita pertanyakan. Seolah- olah kita meragukan kebenaran Al Quran dg mendebat Allah.
    Yakinlah bhw Allah lebih tahu mana yg baik bagi kita dan mana yg membawa mudharat bagi kita.

    Apabila di pengalaman2 yg lalu ada pemimpin dari kalangan muslim yg kita pilih, kemudian ternyata pemimpin tsb tdk amanah..... , itu berarti pilihan kita belum jatuh pada seorang muslim yg sebenarnya, alias kita masih memilih seorang muslim abal2 (munafik). Maka berusahalah mencari lagi pilihan dari kalangan muslim yg benar2 teguh imannya.
    Jangan kemudian anda justru berpaling pd non muslim dan memilihnya, padahal tdk ada yg bisa menjamin bhw seorang non muslim yg terlihat baik di mata anda tsb akan berlaku amanah dan mendukung syiar islam.
    Dg tegas Allah melarang kaum muslim memilih pemimpin dari kalangan non muslim, dan bagi yg melanggae larangan ini. .....Allah memberi label sbg orang2 yg fasik. Karena itu saudaraku mari kita taati perintah ini, dan jangan merasa ragu dg apa yg telah Allah tetapkan bagi kita.

    Semoga jawaban ini bisa memberikan penceeahan bagi kita semua amiiin.
    Wassalamu Alaikum wr wb.

    BalasHapus
  7. Muslim Tambun Bekasi15 November 2014 14.19

    Bismillah. Assalammu'alaikum Wr. Wb. Sangat setuju dengan admin. Intinya sdh jelas tercantum di dalam Al Qur'an. Al Qur'an sbg pedoman hidup org Muslim. Manusia hanya bisa mempelintir dgn kata-kata, apapun bisa diucapkan, berdasarkan inilah, itulah..... tp Al Qur'an berasal dari ALLAH SWT langsung melalui Kekasih-Nya yakni Rasulullah SAW, maka BACALAH......... mf jika sy salah. Wass .Wr. Wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa Alaikum salam wr wb.
      Saudaraku Muslim Tambun, saya sangat setuju dg anda.
      ALLAH berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 36. Sbb :

      Dan tidaklah patut bagi laki2 mukmin dan perempuan mukmin, ketika ALLAH dan RasulNYA telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yg lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai ALLAH dan Rasulnya, maka sungguhlah dia telah sesat. Sesat yg nyata

      Dg demikian sbg muslim seharusnya mentaati perintah ini

      Hapus
  8. Bahasannya cukup menarik,
    Boleh tidak misalnya pemikiran saya begini,
    Musuh Allah itu bukan yang hanya suka bermaksiat, akan tetapi juga orang2 yang menyekutukan Nya, jadi emang mutlak yang bukan Islam itu bukan orang yang layak dipilih menjadi pemimpin meskipun kelakuan sehari-hari nya terlihat baik, tidak minum2an keras dan makan yang haram,
    Mohon komentarnya pak, makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sangat setuju dg saudara anonim

      Hapus

SILAHKAN ANDA BERKOMENTAR DI SINI :